Memilih tenang di zona nyaman atau menantang zona tidak nyaman?

Diposting pada

Memilih tenang di zona nyaman atau menantang zona tidak nyaman?

    Sebagian besar dari kita memilih untuk tenang di zona nyaman, merasa damai dan merasakan ke-syukuran yang didapatkan di zona itu. Kesannya seperti telah ” bersyukur” dan puas dengan harapannya yang sudah benar-benar dicapai. Kalau orang jawa bilang “narimo ing pandum”.

zona%2Bnyaman Memilih tenang di zona nyaman atau menantang zona tidak nyaman?
   Namun beberapa orang tidak menyukai berlama-lama di zona nyaman, terasa monoton, tidak berkembang dan menjemukan. Bagi yang berjiwa petualang mungkin ini pilihan yang tepat lepas dari apakah pilihan ini semakin membuat kemajuan atau kemunduran.

   Lalu mana yang paling baik di antara dua pilihan di atas? memilih diam dan damai di suasana yang monoton? terus bergerak dan berupaya mencari tantangan baru dan baru?

   Tentunya apapun jawabannya tidak memiliki kebenaran yang mutlak, kenapa?

Sebagian orang memilih diam tetap di zona nyaman dengan alasan yang kuat, dan bagian orang lain memilih menantang zona nyaman pun dengan alasan yang bisa di mengerti.

    Satu contoh . Seseorang bekerja di sebuah perusahaan dan menduduki sebuah jabatan yang “sudah” lumayan dengan pekerjaan yang pastinya sudah total menguasainya, namun gajinya standar-standar saja. Suatu saat mendapatkan tawaran pekerjaan di luar kota dengan gaji yang agak berubah naik sedikit, itupun perusahaan baru dan belum terlalu menguasai bidang usahanya dengan kedudukan jabatan yang meningkat.

    Jika seseorang diatas itu anda, mana yang anda pilih?
   Tetap setia dengan yang pasti-pasti saja atau mencoba yang belum pasti tapi mempunyai nilai dari segi sebuah tantangan dan harapan, harapan di sini saya asumsikan bahwa sebuah perusahaan baru yang didalamnya kita memiliki andil memulainya adalah suatu nilai plus tersendiri di kemudian hari dengan resiko bahwa perusahaan tersebut tidak berjalan lama dan anda ambruk bersamanya dalam keadaan kehilangan pekerjaan yang sudah ditinggalkan.

   Anda tentunya berfikir beberapa kali, karena betapa nyamannya anda sudah bekerja di perusahaan sekarang yang lokasinya tidak jauh dari sanak saudara (misalnya) dengan pekerjaan yang sudah bisa anda kerjakan sambil memejamkan mata (hyperbola) meskipun kadang anda juga harus mengeluhkan gaji yang juga sudah terlalu hafal anda ingat jumlahnya ( karena sudah lama tidak naik gaji).

   Saya menulis artikel ini karena ter-obsesi oleh pengalaman pribadi saya, dimana saya sering harus memilih apakah saya tetap di sini atau harus lari kesana selagi ada kesempatan? Tetapi bukan berarti keputusan yang saya ambil pantas untuk ditiru karena bagaimanapun juga sesuatu yang terbaik itu yang sesuai dengan hati nurani pribadi masing-masing.

   Suatu waktu dulu saya bekerja di sebuah perusahaan yang cukup bonafide di kota Surabaya, sebuah perusahaan kontraktor yang cukup ternama. Memulai dengan ” hanya” sebagai “supervisor” diperusahaan itu hingga menjadi manager bukanlah perjuangan yang mudah, ada faktor X yang mendukung mungkin.

   Di titik ketenaran ( kayak artis), ya karena kadang bekerja di sebuah perusahaan kontraktor itu terlihat berkibar (bukan bendera) jika bisa sukses menyelesaikan sebuah project besar dan tentunya memberikan kontribusi keuntungan yang besar juga ke perusahaan secara otomatis akan tenar dari tingkat terbawah ( helper) sampai dengan tingkat tertinggi (Presiden Komisaris).

   Terciptalah rasa nyaman dan aman serta damai, berbangga dan semakin pede siap menerima tugas yang lebih besar lagi.

   Itu jika berfikir positifnya, lalu apa negatifnya? seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa saya sudah terlalu hapal berapa bulan ini saya di bayar (gaji), meski berapapun tetap merasa nyaman karena apa sih puncak harapan kedudukan dari sebuah pekerja Project? ya maksimal menjadi manager yang mampu memegang project.
[post_ads]
   Pada suatu hari seorang kawan menawarkan kerjasama untuk membuka sebuah usaha sendiri, sebuah usaha yang agak tidak terhubung dengan bidang yang saat itu saya jalani.   Membuat sebuah perusahaan sendiri?

   Terus terang saya harus berfikir selama hampir tiga bulan untuk memastikan saya tega meninggalkan kenyamanan saya apakah tidak. Wajar jika saya takut bahwa usaha itu tidak akan berlanjut dan justru saya bisa kehilangan kenyamanan yang saat itu sudah membuai saya.

   Bukan hanya pada teman kawan dan orang-orang dekat saya berkonsultasi, tapi juga ke mbah Google, dan Yahoo. Di sebuah forum juga muncul beberapa saran yang lalu saya pelajari dan akhirnya setelah berfikir, berfikir dan berfikir. Saya memutuskan untuk pergi dari zona nyaman saya, meninggalkan kursi nyaman saya untuk kembali berjuang dari NOL membuka usaha baru yang benar-benar nol secara modal pengalaman dan nol dalam penguasaan lapangan.

   Apa yang terjadi?
   Singkat cerita saja, bahwa hari ini saya mendapatkan hampir lima kali dari penghasilan saya waktu itu. Spekulasi yang berhasil kata teman saya, padahal saya sendiri hampir menyerah pada prosesnya.

   Inti daripada artikel ini bahwa Memilih tenang di zona nyaman atau menantang zona tidak nyaman? adalah pilihan yang kedua duanya menantang, pilihan pertama adalah menantang kesabaran dan yang kedua adalah menantang untuk kehilangan.

  Dan menurut saya semua pilihan tersebut sama-sama bagus tergantung siapa yang diposisi tersebut. Tapi yang pasti “setiap hal yang beresiko besar akan mendapatkan hadiah besar” begitu sebaliknya jika anda memilih yang standar maka anda akan mendapatkan juga kurang lebih standar.

   Dan saya memilih untuk menantang zona tidak nyaman

Baca juga  Alasan untuk jenuh dan cara mengatasinya
The following two tabs change content below.
%name Memilih tenang di zona nyaman atau menantang zona tidak nyaman?
Saya bekerja di sebuah perusahaan marine servoce di Batam Indonesia. Kegiatan sehari-hari selain rutinitas di perusahaan juga di bidang internet marketing, blogging, writing dan traveling. Web adalah tempat saya berbagi.
Baca juga  Mengapa pengajuan Google Adsense saya untuk domain sendiri di setujui?